Membunuh Orang Tanpa Menyentuhnya
Oleh mustamin Raga
Di masa lalu, untuk menjatuhkan seseorang diperlukan pasukan, fitnah yang disebarkan dari mulut ke mulut, atau setidaknya surat kaleng yang dikirim secara diam-diam. Kini, semua itu terasa kuno. Cukup sebuah unggahan, potongan video yang dipisahkan dari konteksnya, foto yang diberi narasi menyesatkan, lalu ditekan tombol "bagikan". Dalam hitungan menit, seseorang dapat kehilangan nama baik yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Membunuh karakter di media sosial adalah salah satu bentuk kekerasan paling modern. Tidak meninggalkan luka di tubuh, tetapi meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam pada kehidupan seseorang. Tidak ada darah yang mengalir, tidak ada sirene ambulans, tetapi reputasi, kepercayaan publik, bahkan masa depan seseorang dapat runtuh seketika.
Ironisnya, pelaku sering merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Mereka menganggap diri sedang membela moral, membongkar kebusukan, atau menegakkan keadilan. Padahal, yang disebarkan kerap kali masih sebatas dugaan, potongan informasi, bahkan rekayasa yang sengaja dibangun untuk membentuk persepsi publik.
Pakar komunikasi Walter Lippmann sejak 1922 telah mengingatkan bahwa manusia tidak selalu merespons realitas secara utuh, melainkan "gambaran yang ada di dalam pikirannya". Di era media sosial, gambaran itu dengan mudah dibentuk oleh konten yang beredar di layar gawai.
Marshall McLuhan juga pernah menyatakan bahwa media bukan sekadar saluran penyampai pesan, tetapi menjadi bagian dari pesan itu sendiri. Dalam media sosial, kecepatan sering mengalahkan akurasi. Emosi lebih cepat menyebar dibandingkan fakta. Kemarahan lebih mudah viral daripada klarifikasi.
Berbagai peristiwa di dunia menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana penghakiman publik dapat menghancurkan kehidupan seseorang bahkan sebelum fakta terungkap secara utuh. Di era digital, opini publik sering kali bergerak lebih cepat daripada proses hukum maupun klarifikasi.
Fenomena tersebut diperkuat oleh teori Spiral of Silence dari Elisabeth Noelle-Neumann. Ketika satu opini menjadi dominan, banyak orang yang sebenarnya memiliki pandangan berbeda memilih diam karena takut diserang. Akibatnya, satu narasi seolah-olah menjadi kebenaran mutlak meskipun belum tentu demikian.
Sementara itu, Manuel Castells menjelaskan bahwa kekuasaan pada era jaringan terletak pada kemampuan mengendalikan arus informasi. Siapa yang menguasai narasi, berpeluang besar menguasai persepsi publik. Tidak mengherankan jika perang citra, perang tagar, dan perang opini kini menjadi bagian dari dinamika kehidupan sosial maupun politik.
Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma media sosial tidak dirancang untuk mencari kebenaran, melainkan mempertahankan perhatian pengguna. Konten yang memancing kemarahan, kebencian, dan sensasi sering memperoleh jangkauan lebih luas dibandingkan informasi yang tenang, berimbang, dan telah diverifikasi.
Akibatnya, seseorang dapat divonis bersalah oleh publik jauh sebelum proses hukum berjalan. Bahkan ketika tuduhan itu akhirnya terbukti tidak benar, kerusakan nama baik yang ditimbulkan sering kali tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.
Karena itu, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan kemampuan menahan diri. Menahan diri untuk tidak langsung percaya, tidak tergesa-gesa menghakimi, dan tidak mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sebab, di balik setiap akun yang menjadi sasaran kemarahan publik, ada seorang manusia yang memiliki keluarga, pekerjaan, dan masa depan.
Mungkin benar, membunuh seseorang tidak selalu membutuhkan senjata. Terkadang, cukup dengan sebuah narasi yang diulang terus-menerus hingga masyarakat percaya bahwa narasi itu adalah kenyataan.
📤 Bagikan Berita Ini
Berita Terkait